Home

1.3 Basis (Dasar) Teori Etika

October 10, 2017

Hasil gambar untuk Basics of ethics


Berikut ini adalah basis teori etika:


1.      Teologi
Teologi berasal dari kata Yunani yaitu telos. Dalam teori teologi inimengukur baik buruknya suatu tindakan pada tujuan yang mau dicapai dengan akibat yang akan ditimbulkan dari tindakan itu. Ada 2 jenis dalam aliran teologi ini, yaitu Egoisme dan Utilitarianisme.
a.       Egoisme 
Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungan dengan egoisme, yaitu egoisme psikologis dan egoisme etis. Egoisme psikologis adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri. Egoisme etis adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri. Yang membedakan tindakan berkutat diri (egoisme psikologis) dengan tindakan untuk kepentingan diri (egoisme etis) adalah pada akibatnya terhadap orang lain. Tindakan berkutat diri ditandai dengan ciri mengabaikan atau merugikan kepentingan orang lain, sedangkan tindakan mementingkan diri tidak selalu merugikan kepentingan orang lain.
b.      Utilitarianisme
Berasal dari kata Latin utilis, kemudian menjadi kata Inggris utility yang berarti bermanfaat (Bertens, 2000). Menurut teori ini, suatu tindakan dapat dikatan baik jika membawa manfaat bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat, atau dengan istilah yang sangat terkenal “The Greatest Happiness Of The Greatest Numbers”. Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham egoisme etis terletak pada siapa yang memperoleh manfaat. Egoisme etis melihat dari sudut pandang kepentingan individu, sedangkan paham utilitarianisme melihat dari sudut kepentingan orang banyak (kepentingan bersama, kepentingan masyarakat).
2.       Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban. Paham deontologi mengatakan bahwa etis tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya sama sekali dengan tujuan, konsekuensi atau akibat dari tindakan tersebut. Konsekuensi suatu tindakan tidak boleh menjadi pertimbangan untuk menilai etis atau tidaknya suatu tindakan.



3.      Teori Hak
Suatu tindakan atau perbuatan dianggap baik bila perbuatan atau tindakan tersebut sesuai dengan HAM. Menurut Bertens (2000), teori hak merupakan suatu aspek dari deontologi (teori kewajiban) karena hak tidak dapat dipisahkan dengan kewajiban. Bila suatu tindakan merupakan hak bagi seseorang, maka sebenarnya tindakan yang sama merupakan kewajiban bagi orang lain. Teori hak sebenarnya didsarkan atas asumsi bahwa manusia mempunyai martabat dan semua manusia mempunyai martabat yang sama. Hak asasi manusia didasarkan atas beberapa sumber otoritas, yaitu:
1. Hak hukum (legal right), adalah hak yang didasarkan atas sistem/yurisdiksi hukum  suatu negara, di mana sumber hukum tertinggi suatu Negara adalah Undang-Undang Dasar  negara yang bersangkutan.
2.   Hak moral atau kemanusiaan (moral, human right), dihubungkan dengan pribadi manusia secara individu, atau dalam beberapa kasus dihubungkan dengan kelompok bukan dengan masyarakat dalam arti luas. Hak moral berkaitan dengan kepentingan individu sepanjang kepentingan individu itu tidak melanggar hak-hak orang lain.
Hak kontraktual (contractual right), mengikat individu-individu yang membuat kesepakatan/kontrak bersama dalam wujud hak dan kewajiban masing-masing kontrak.

4.      Teori Keutamaan (Virtue Theory)
Keutamaan bisa didefinisikan sebagai berikut : disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk bertingkah laku baik secara moral. Kebijaksanaan, misalnya, merupakan suatu keutamaan yang membuat seseorang mengambil keputusan tepat dalam setiap situasi. Keadilan adalah keutamaan lain yang membuat seseorang selalu memberikan kepada sesama apa yang menjadi haknya. Kerendahan hati adalah keutamaan yang membuat seseorang tidak menonjolkan diri, sekalipun situasi mengizinkan. Suka bekerja keras adalah keutamaan yang membuat seseorang mengatasi kecenderungan spontan untuk bermalas-malasan. Ada banyak keutamaan semacam ini. Seseorang adalah orang yang baik jika memiliki keutamaan. Hidup yang baik adalah hidup menurut keutamaan (virtuous life).

5.      Teori Etika Teonom
Sebagaimana dianut oleh semua penganut agama di dunia bahwa ada tujuan akhir yang ingin dicapai umat manusia selain tujuan yang bersifat duniawi, yaitu untuk memperoleh kebahagiaan surgawi. Teori etika teonom dilandasi oleh filsafat risten, yang mengatakan bahwa karakter moral manusia ditentukan secara hakiki oleh kesesuaian hubungannya dengan kehendak Tuhan. Perilaku manusia secara moral dianggap baik jika sepadan dengan kehendak Tuhan, dan perilaku manusia dianggap tidak baik bila tidak mengikuti aturan/perintah Tuhan sebagaimana dituangkan dalam kitab suci. Sebagaimana teori etika yang memperkenalkan konsep kewajiban tak bersyarat diperlukan untuk mencapai tujuan tertinggi yang bersifat mutlak. Kelemahan teori etika Kant teletak pada pengabaian adanya tujuan mutlak, tujuan tertinggi yang harus dicapai umat manusia, walaupun ia memperkenalkan etika kewajiban mutlak. Moralitas dikatakan bersifat mutlak hanya bila moralitas itu dikatakan dengan tujuan tertinggi umat manusia. Segala sesuatu yang bersifat mutlak tidak dapat diperdebatkan dengan pendekatan rasional karena semua yang bersifat mutlak melampaui tingkat kecerdasan rasional yang dimiliki manusia.




Sumber :

1.2 Prinsip-prinsip Etika

Gambar terkait

Berdasarkan buku yang berjudul The Great Ideas karangan Mortimer J. Adler (1952), etika diringkas menjadi 6 prinsip dan merupakan landasan prinsipil dari etika. Prinsip-prinsip tersebut adalah:

1.      Prinsip keindahan
Prinsip ini didasari pada rasa senang  terhadap keindahan, ada yang mengatakan bahwa hidup dan kehidupan manusia itu adalah keindahan. Maka dari itu etika manusia berkaiatan atau mencakup nilai-nilai keindahan. Oleh karena itu kita sebagai manusia memerlukan penampilan yang serasi dan indah atau enak dipandang mata dalam berpakaian, dan menggunakannya pada waktu yang tepat,bukankah tidak etis bila seseorang memakai gaun kekantor atau tidak memakai sepatu kekantor bahkan tidak sepatutnya seseorang menghadapi tamunya dengan menggunakan pakaian tidur.

2.      Prinsip persamaan
Menghendaki adanya persamaan antara manusia yang satu dengan yang lain merupakan hakekat kemanusiaan. Setiap manusia yang dilahirkan kebumi masing-masing memiliki hak dan kewajiban, pada dasarnya manusia memiliki derajat yang sama dengan manusia lainnya.
Konsekuensi dari ajaran persamaan ras menuntut persamaan diantara beraneka ragam etnis, watak, karakter atau pandangan hidup yang berbeda-beda. Begitu banyak keragaman etnis. Namun, kedudukan sebagai suatu kelompok masyarakat adalah sama. Allah juga telah menciptakan manusia dengan jenis kelaminyang berbeda ada pria dan wanita, begitu juga dengn bentuk fisiknya sangat berbeda, tapi secara hakiki keduanya membutuhkan persamaan dan pengakuan atas hak asasi mereka dan kedudukan dihadapan Allah adalah sama. Etika yang dilandasi oleh pinsip persamaan(equality) dapat menghilangkan prilaku diskriminatif, yang membeda-bedakan dalam aspek interaksi manusia.

3.      Prinsip kebaikan
Pada umumnya kebaikan berarti sifat dari sesuatu yang mengakibatkan pujian. Perkataan yang baik mengadung sifat seperti persetujuan, pujian, keunggulan, kekaguman, atau ketetapan, maka prinsip kebaikan sangat erat kaitannya dengan hasrat dan cinta, misalnya jika kita menginginkan kebaikan dari suatu ilmu pengetahuan maka kita akan mengandalkan obyektivitas ilmiah, pengetahuan, rasionalis, maka yang diperlukan adalah sikap sadar hukum. Jadi prinsip kebaikan adalah prinsip universal.

4.      Prinsip keadilan
Keadilan adalah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya.

5.      Prinsip kebebasan
Kebebasan muncul dari doktrin bahwa setiap orang memiliki hidupnya sendiri serta memiliki hak untuk bertindak menurut pilihannya sendiri, kecuali jika pilihan tersebut melanggar kebebasan dari orang lain. Kebebasan manusia adalah kemampuan untuk menentukan sendiri, kesanggupan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, syarat yang memungkinkan manusia untuk melaksanakan pilihan-pilihannya beserta kosekuensi dari pilihan itu sendiri. Oleh karena itu tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab dan tidak ada tanggung jawab tanpa kebebasan. Semakin besar kebebasan yang kita miliki semakin besar pula tanggung jawab yang kita pikul.

6.      Prinsip kebenaran
Ide kebenaran sering kita pakai dalam pembicaraan mengenai logika ilmiah,sehingga kita mengenal kriteria kebenaran dalam berbagai ilmu, contoh matematika, tapi ada juga kebenaran mutlak yang dapat dibuktikan dengan keyakinan, bukan dengan fakta yang ditelaah oleh teologi dan ilmuagama. Kebenaran harus dapat ditunjukkan dan dibuktikan agar masyarakat merasa yakin dengan kebenaran.



Sumber :

1.1 Pengertian Profesi

Hasil gambar untuk ethics


Dalam kehidupan sosial bermasyarakat, diperlukan tatacara yang baik dalam bertindak, aturan berperilaku dan sesuai dengan akhlak yang baik. Jadi etika manusia adalah cara manusia berprilaku, mengetahui hal-hal yang baik dan buruk, berperangai sesuai dengan norma dan adat.

Etika berasal dari Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan" adalah sebuah sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.


Berikut adalah pengertian Etika menurut para ahli:

1.      Dr. James J. Spillane SJ
Menurut Dr. James J. Spillane SJ (1971), Etika adalah mempertimbangkan atau memperhatikan tingkah laku manusia dalam mengambi suatu keputusan yang berkaitan dengan moral. Etika lebih mengarah pada penggunaan akal budi manusia dengan objektivitas untuk menentukan benar atau salahnya serta tingkah laku seseorang kepada orang lain.

2.      Hamzah Yacub
Menurut Hamzah Yacub (2004), etika adalah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dan memperlihatkan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran.

3.      Drs. Sidi Gajabla
Menurut Drs. Sidi Gajabla (1993), etika adalah dalam sistematika filsafat mengartikan etika sebagai teori tentang tingkah laku, perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk sejauh yang dapat ditentukan oleh akal

4.      Prof. DR. Franz Magnis Suseno
Menurut Prof. DR. Franz Magnis Suseno (1987), etika merupakan suatu ilmu yang memberikan arahan, acuan dan pijakan kepada tindakan manusia.

5.      Maryani & Ludigdo   
Menurut Maryani dan Ludigdo (2006), etika merupakan seperangkat aturan, norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang dianut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau profesi.

6.      Soergarda Poerbakawatja
Menurut Soergarda Poerbakawatja (2000), pengertian Etika ialah filsafat mengenai nilai, kesusilaan, tentang baik dan buruk, kecuali etika mempelajari nilai-nilai, ia juga merupakan pengetahuan mengenai nilai-nilai itu sendiri.

7.      Asmaran         
Menurut Asmaran (1992), pengertian Etika adalah studi mengenai tingkah laku manusia, tidak hanya menentukan kebenaran-kebenarannya sebagaimana adanya, tetapi juga menyelidiki manfaat atau kebaikan dari seluruh tingkah laku manusia


Berdasarkan pengertian etika menurut para ahli tersebut, dapat disimpulkan etika adalah aturan yang ada di kehidupan kita sehari-hari atau sebuah ilmu yang membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia.



Sumber :

English for Business 2

June 29, 2017

1.      Verb Phrase

A verb phrase consists of a main verb alone, or a main verb plus any modal and/or auxiliary verbs. The main verb always comes last in the verb phrase.

Formula :
Auxiliary Verb + Main Verb = Verb Prase

The verb phrase in English has 5 forms :
1)      Main Verb


2)      An auxiliary verb “be” and main verb in –ing verb


3)      An Auxiliary verb ("have") and a Main verb with past participle


4)      An auxiliary verb ("have" + "been") and a main verb in the –ing form


5)      A Modal verb (can, could, may, might, must, shall, and etc) and a Main verb



2.      Present Tense

Present tense is a verb that we use when we want to explain about something that is going on now. There are four present tenses in English :

a.      Simple Present Tense

We usesimple present tense for : describe habits, unchanging situation, general truth, and fixed arrangement . In simple present tense, we use verb 1 as a verb.
If you wanna make a negative sentence of Simple present tense, you can put “not” after do/does (depends on the subject, do for I, you, we,they and does for he, she it)
And if you wanna make a n interogative sentence, the formula is :
Do/Does + Subject + Verb1 + O ?

Example :
(+)I smoke everyday (it’s a habit)
(-) I don’t smoke everyday
(?)Do I smoke everyday?

(+) We study in Gunadarma University (it’s an unchanging situation)
(-) we don’t study in Gunadarma University
(?) Do we study in Gunadarma University?

(+)Tiger eats meats (it’sa general truth)
(-) Tiger doesn’t eat meats
(?) Do tiger eat meats?

b.      Present Continous Tense

We use present continous tenseto talk about something that happen now. We use verb 1 + -ing as a verb.
The function of present continous tense are :
-          To indicate an action that is being done at this time / now
-          To show a work that will be done in the near future (plan)
-          To indicate an action that occurs repeatedly
The formula of present Continous tenseis :
Subject + to be (am, is, are) + Verb - ing + object
If you wanna make a negative sentence of present continous tense, you can put “not” after to be (is, am, are)
And if you wanna make a n interogative sentence, the formula is :
To be + subject + verb - ing + object?
 Example :
(+)She is writing a letter now
(-)She isn’t  writing a letter now
(?) Is she writing a letter now?

c.       Present Perfect Tense

We use Present Perfect Tense when we want to describe a repeated action or action that began inthe past but aren’t finished yet. We use verb 3 as the verb in Present Perfect Tense.
The function of Present Perfect Tense are :
-          To describe a repeated action
-          To describe an action that performed during a period that hasn’t  finished yet
-          To describe an action or situation that started in the past and continues in the present

The formula of Present Perfect Tense :
Subject + have/has + verb-3 + object
If you wanna make a negative sentence of present perfect tense, you can put “not” after have/has.
And if you wanna make an interogative sentence, the formula is :
Have/has + Subject + Verb-3 + object ?

Example :
(+) I have met my perfect partner yet.
(-) I haven't met my perfect partner yet.
(?) Have I met my perfect partner yet?

(+) He hasn taken any drug for two years
(-)  He hasn't taken any drug for two years
(?) Has he taken any drug for two years?

d.      Present Perfect Continous

We use present perfect continous tense for an action that started in the past and continues in the present.
The formula of Present Perfect Continous Tense is :
(+) S + have/has + been + V1-ing
(-)  S + have/has + not + been + V1-ing
(?) have/has + S + been + V1-ing ?

Example :
(+) They have been working together since senior high school.
(-)  They have not been working together since senior high school.
(?) Have they been working together since senior high school ?

(+) She has been working at that company for three years.
(-)  She has not been working at that company for three years.
(?) Has she been working at that company for three years ?

3.      Past Tense

Past tense is averb that we use when wewant to to talk about things that started and ended in the past, or things that started in the past and still continue to the present. There are four past tenses in English :

a.      Simple Past Tense

We use simple past tense to  explain something that happened in the past. We use verb-2  as the verb.
The formula for Simple past tense :
(+)  Subject + V2
(-)   Subject + did + not + V1
(?)  Did + Subject + V1

In simple past tense, sometimes, we use some adverbial of times, like : ago, yesterday, just now, a week ago, three years ago, and etc.
Example :
(+)  I ate the cake yesterday
(-)   I didn’t eat the cake yesterday
(?)  Did I eat the cake yesterday?

(+)  Cika cooked with her mom this morning
(-)   Cika didn’t cook with her mom this morning
(?)   Did Cika cook with her mom this morning?

b.      Past Continous Tense

We use past continuous tense to explain actions that started in the past and still continue until now.
The formula of Past Continuous Tense :
(+) Subject + to be (was/were) + verb-ing + object
(-) Subject + was/were + not + verb-ing + object
(?) was/were + subject + verb-ing + object ?

Example :
(+) I was playing badminton yesterday
(-)  I was not playing badminton yesterday
(?) Was I playing badminton yesterday ?

c.       Past Perfect Tense

We use past perfect tense to explain an action that happened in the past finished before another action in the past started. We use verb-3 as the verb.
The function of Past Perfect Tense are :
-          Past actions that are now finished
-          Third conditional
-          Dissatisfaction with the Past
The formula of Past Perfect Tense is :
(+)  Subject + Had + V3
(-)   Subject + had + not + V3
(?)  Had + Subject + V3
Example :
(+) She had eaten the dinner before she went to the cinema
(-) She had not eaten the dinner before she went to the cinema
(?) Had she eaten the dinner before she went to the cinema?

d.      Past Perfect Continuous Tense

We use past perfect continuous to explain an action that were going on in the past up until another action in the past happened.
The formula of Past Perfect ContinuousTense is :
(+) S + Had + Been + V1-ing
(-) S + Had + not + Been + V1-ing
(?)  Had + S + Been + V1-ing

Example :
(+)My baby had been crying since I went to shop.
(-)  My baby had not been crying since I went to shop.

(?)  Had My baby been crying since I went to shop ?
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS